Cintailah Bumi Dengan Sepeda Onthel

Kompas.com - 23/04/2010, 01:24 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com - Sejumlah mahasiswa pencinta alam dari berbagai universitas dan perguruan tinggi di Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (22/4/2010) mengarak bola dunia dalam ukuran besar serta menunggangi sepeda ontel, dalam aksi memperingati Hari Bumi Sedunia tahun 2010.

Mereka mengarak bola dunia (globe) dengan rute melalui Jl Jenderal Sudirman, berhenti di bundaran air mancur sambil berorasi terkait persoalan lingkungan hidup, kemudian menuju Taman Kambang Iwak Palembang.

Sebagian lagi peserta aksi itu mengendarai sepeda zaman dulu, biasa dikenal dengan sepeda ontel, sebagai simbol agar pemerintah menyelenggarakan kebijakan jalanan yang bebas kendaraan bermotor selama satu hari maksimal satu kali dalam satu bulan.

"Kebijakan bebas kendaraan bermotor dalam satu hari setiap bulan, akan mengurangi karbon yang dihasilkan dari bahan bakar minyak," kata Capung, mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Ekonomi Unsri (Mafesripala), sekaligus koordinator aksi.

Menurut dia, melalui kegiatan itu berupaya untuk menimbulkan kesadaran kepada khalayak ramai agar senantiasa menjaga alam ini dari kerusakan akibat budaya membuang sampah sembarangan serta penebangan kayu di hutan secara ilegal.

Lewat aksi tersebut, mereka juga mengharapkan agar pemerintah menata ulang peraturan tentang alih fungsi hutan, dan juga menindak tegas oknum pelaku pembalakan liar (illegal logging) yang sampai saat ini pemerintah belum mampu menghentikannya, khususnya Pemprov Sumsel.

Dia menilai, Undang Undang (UU) Kehutanan, UU Perkebunan, UU Pokok Pertambangan, dan PP No:2 Tahun 2008 tentang jenis dan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang dinilai justru menjadi rekomendasi komersialisasi hutan lindung dalam bentuk baru.

"Semua itu menambah sederetan masalah lingkungan yang berdampak buruk terhadap masyarakat, seperti banjir dan tanah longsor," ujarnya.

Agung Sulaiman, koordinator lapangan aksi itu menyatakan, mereka sengaja melakukan kegiatan itu untuk menanamkan cinta terhadap lingkungan sejak dini.

"Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menggunakan tisu yang berbahan baku dari kayu, karena akan mendorong tingkat penebangan hutan yang makin tinggi," ujar dia.

Pantauan di lapangan, meski bertemu dengan massa aksi dari aktivis lingkungan, namun mereka tetap melaksanakan aksi secara sendiri-sendiri.

Aksi yang digelar berlangsung damai, bahkan sejumlah aparat kepolisian turut memberikan tanda tangan pada sebuah kain putih berukuran satu kali dua meter, sebagai wujud dukungan peduli terhadap lingkungan.

Mereka juga menggelar pentas musik sebagai metode pendekatan guna mensosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan dari sampah plastik, serta larangan melakukan penebangan hutan secara ilegal kepada masyarakat Kota Palembang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau